Senin, Juli 04, 2011

Kemegahan dan Keindahan Tamansari Yogyakarta

Selesai mandi pagi, kami parkir kembali di depan Benteng Vredeburg di area Malioboro. Begitu turun, kami langsung disapa seorang tukang beca. Beliau menawarkan becanya mengelilingi area Keraton Yogyakarta, Malioboro, mengantar sarapan gudeg sampai belanja batik dan oleh-oleh khas Yogyakarta. Dengan tarif hanya Rp 5.000,- tanpa batas waktu, tanpa ragu aku sulit menampiknya.

Diawali dengan perjalanan menuju area Keraton Yogyakarta, masuk dari samping kanan Keraton, kami berhenti di tempat warung nasi dengan menu khas sayur Gudeg, krecek kulit dan telur ayam. Aku rasakan gudeg yang enak dan sambel kulit (krecek) yang memikat selera selama di Yogyakarta ini. Lumayan mengganjal perut sarapan kali ini.
Menikmati sarapan pagi dengan Gudeg di Yogyakarta
Kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya kami tiba di area Tamansari. Terlebih dahulu, beca mengantar kami masuk ke area taman, tapi menuju sebuah rumah di sampingnya dengan aneka lukisan batik. Tanpa bisa ditawar, kami akhirnya membeli 2 buah lukisan batik bermotif kupu-kupu, seharga Rp 150.000 per buah.
Menikmati dan membeli lukisan batik di Yogyakarta
Selanjutnya menuju belakang rumah pelukis ini, kami menjumpai taman kuno. Taman ini adalah Tamansari Yogyakarta atau Tamansari Keraton Yogyakarta yang merupakan sebuah situs bekas taman atau kebun istana (royal garden) Keraton Yogyakarta. Tempat ini adalah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya yang letaknya hanya sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Setelah membayar karcis masuk sebesar Rp 3.000/ orang kami ditemani guide mengelilingi dan mendapatkan penjelassan detail tentang Tamansari ini.
Di depan Gerbang belakang Tamansari
Kebun atau taman ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan "The Fragrant Garden" ini memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air.
Di area dalam Tamansari
Arsitek bangunan ini bergaya Portugis, sehingga selintas seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat, di samping makna-makna simbolik Jawa yang tetap dipertahankan. Namun jika kita amati, makna unsur bangunan Jawa lebih dominan di sini. Tamansari dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I atau sekitar akhir abad XVII M. Tamansari bukan hanya sekedar taman kerajaan, namun bangunan ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar (www.yogyanews.com).
Kolam mandi para Selir Sultan
Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Tamansari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja (www.wikipedia.com).

Di area dalam komplek Tamansari kami menyaksikan dengan kagum 3 kolam yang konon digunakan untuk tempat mandi sultan dan selir yang dipilih mendapat giliran yang terletak bagian dalam, ada kolam bagian luar dengan ukuran cukup luas, tempat para selir mandi dan kemudian kolam di samping kolam mandi selir adalah kolam para putra sultan.
Area kolam mandi sultan dan selir terpilih
Di area kolam mandi sultan terdapat 2 kamar. Kamar pertama adalah tempat sultan dan selir berganti pakaian dan kamar kedua tempat sultan 'sauna' atau mengeringkan tubuhnya dengan uap panas. Di sini terdapat perapian yang di atasnya ada sebuah ranjang cukup besar.
Kamar 'sauna' dengan perapian dan ranjang besar
Pada bagian dalam taman ini selain terdapat irigasi air terdapat juga jalan bawah tanah atau terowongan dari Kraton Yogyakarta yang menuju salah satu bangunan di taman yang disebut Pasarean Ledoksari, yakni tempat peraduan dan tempat pribadi Sultan. Juga terdapat Sumur Gumuling, yaitu bangunan bertingkat dua dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah.
Lima Tangga menuju lantai 2
Di masa lampau, bangunan ini merupakan semacam surau tempat Sultan melakukan Sholat yang dapat dicapai melalui salah satu lorong bawah tanah yang ada di kompleks taman. Selain itu, masih banyak terdapat lorong bawah tanah, yang dulunya dipakai sebagai jalan penyelamatan bilamana sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh.
Lorong bawah tanah menuju Keraton Yogyakarta
Di salah satu bagian ada bangunan yang disebut Pulau Kenanga karena di halaman depan gedung tumbuh pohon Kenanga Bunga Kenanga menyebarkan bau yang harum ke seluruh bagian taman.
Depan Gerbang Utama Tamansari
Akhirnya setelah melewati perjalanan yang menyenangkan di sini, kami berani menyimpulkan bahwa Tamansari adalah sebuah tempat yang cukup menarik dan wajib untuk dikunjungi. Selain letaknya yang tidak terlalu jauh dari Kraton Yogyakarta yang merupakan obyek wisata utama kota ini, Tamansari memiliki beberapa keistimewaan. Keistimewaan Tamansari antara lain terletak pada bangunannya sendiri yang relatif utuh dan terawat serta lingkungannya yang sangat mendukung keberadaannya sebagai obyek wisata. Bangunan ini sangat inspiratif dan membanggakan sebagai sebuah bukti sejarah anak bangsa (Kabelan Kunia & Family/ Yogyakarta/2011)

Tidak ada komentar: