Heni Yuningsih, Fawwaz dan Najla dengan latar belakang Pura Tanah Lot, Bali
Menjelang sore, kami bergegas menuju Pura Tanah Lot. Harapan kami, ketika tiba di sana, kami bisa menikmati sunset yang merah membara membakar langit di belakang Pura Tanah Lot nan eksotis. Seperti banyak ditampilkan di foto-foto dan iklan-iklan yang menampilkan semburat merah mentari di latar Pura, bayangan yang indah itu membuat aku makin memacu laju kendaraan sewaan melintasi kemacetan Bali. Sepertinya banyak wisatawan yang punya angan-angan dan bayangan seperti kami terhadap indahnya senja di Tanah Lot. Akibatnya jalan-jalan, terutama akses menuju objek wisata tersebut kusut karena macet.
Heni, Fawwaz dan Najla dengan latar belakang Pura Tanah Lot, Bali
Kami sangat mahfum bahwa Tanah Lot merupakan salah satu tujuan wisata favorit di pulau Bali ini. Makanya aku sedikit nekad menginjak pedal gas Avanza dalam-dalam untuk segera sampai di sana. Objek wisata ini terkenal akan pura Tanah Lot yang terletak terpisah dari daratan, namun masih bisa dijangkau kalau air laut surut tanpa harus menggunakan perahu. Pura ini merupakan salah satu pura utama di Bali yang dikenal dengan Sad Kahyangan. Pura Tanah Lot terletak di desa Beraban, Tabanan. Perjalanan kami menuju lokasi tidak kurang dari 1,5 jam dari kota.
Fawwaz dan Najla di Pura Tanah Lot, Bali
Di tengah keramaian pengunjung dan deru-menderu suara ombak mengelus bebatuan di pinggiran pura, kami sekeluarga menyempatkan mengabadikan senja di Tanah Lot ini. Namun sayangnya kami tidak bisa mengabadikan semburat merah di latar pura, karena malam hampir menjelang. Kelamaan di jalan yang macet, menyebabkan kami tidak kebagian menikmati keindahan lain di Tanah Lot.
Sembari menikmati gemericik ombak-ombak kecil di sela-sela jemari kaki, kami beharap semoga waktu-waktu mendatang kami bisa berkunjung kembali ke sini dengan tanpa kehilangan momen indah menikmati Sang Mentari Senja menjilat di laut lepas di Tanah Lot nan indah ini, semoga. (Kabelan Kunia/ Family on Vacation)
Fawwaz dan Najla narsis di Pura Tanah Lot, Bali
Heni Yuningsih, Fawwaz dan Najla dengan latar belakang Pantai Sanur, Bali
Rifdah Fawwaz Zhafirah Kunia dan teman-teman di SD Bianglala perform pada Lomba Modern Dance di Bandung pada Bulan Mei 2011 tahun yang lalu. Alhamdulillah grup ini didaulat sebagai JUARA III tingkat SD/ Anak. Selamat !!!!
Najla Haifa Zaizativa Kunia (4,3 tahun) sedang belajar berenang di Kolam renang Gracia Lembang-Subang. Keberanian adalah kunci sukses untuk bisa berenang dengan baik....
Angklung adalah sebuah alat musik yang terbuat dari potongan bambu. Alat musik ini terdiri dari 2-4 tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan talirotan. Tabung bambu dikuir detail dan dipotong sedemikian rupa oleh pengrajin angklung profesional untuk menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambu digoyang.
Setiap angklung menghasilkan nada atau akord yang berbeda sehingga beberapa pemain harus bekerja sama untuk menghasilkan melodi yang indah. Instrumen ini telah dikenal sejak zaman kuno di beberapa wilayah Indonesia, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.
Kata angklung berasal dari bahasa Sunda yaitu ‘angkleung-angkleungan’ yaitu gerakan pemain angklung, serta dari suara ‘klung’ yang dihasilkan instrument bambu ini. Angklung sebenarnya merupakan pengembangan dari alat musik calung, yaitu tabung bambu yang dipukul, sedangkan angklung merupakan tabung bambu yang digoyang sehingga menghasilkan hanya satu nada untuk setiap instrumennya.
Dalam tradisi Sunda masa lalu, instrumen angklung memiliki fungsi dalam ritual keagamaan yaitu untuk mengundang Dewi Sri (Dewi padi lambang kemakmuran) agar turun ke bumi dan memberikan kesuburan tanaman padi. Hingga saat ini di beberapa desa masih dijumpai upacara yang mempergunakan angklung buhun untuk kegiatan tradisional seperti: pesta panen, ngaseuk pare, nginebkeun pare, ngampihkeun pare, seren taun, nadran, helaran, turun bumi, dan sedekah bumi.
Selayaknya masyarakat Sunda secara khusus bisa memainkan alat musik sederhana ini. Karenanya, di SD Bianglala bandung alat musik ini mulai diperkenalkan secera serius kepada semua siswa. Bahkan dalam beberapa kesempatan, SD Bianglala Angklung senantiasa diundang untuk menampilkan grup musik angklungnya ke hadapan khalayak.
Dalam berbagai lomba Angklung di Jawa Barat khususnya, kerapkali tim angklung SD Bianglala Bandung menjuarai lomba alat musik ini. Tampil di depan umum dalam sebuah festival atau perlombaan, melatih kepercayaan diri siswa sekaligus makin memperkenalkan alat musik warisan budaya bangsa. Pada akhirnya kita semua, bangsa Indonesia menjadi bangga akan warisan budaya bangsa dan berani berkata lantang, bahwa budaya adiluhung Indonesia sudah menyebar ke seantero dengan penuh kebanggaan...! Sukses....Angklung sebagai warisan dunia (Kabelan Kunia)
Rifdah Fawwaz Zhafirah Kunia dan teman-teman dari SD Bianglala Bandung (Bianglala Modern Dance's) perform pada kegiatan Festival CityLink Bandung pada tanggal 21 Januari 2012.
Kegiatan ekstrakurikuler 'Menari' di SD Bianglala yang sudah diikuti dalam kurun waktu 1 tahun belakang, dibuktikan dalam penampilan yang fantastis pada hari ini. Bersama teman-teman dari SD Bianglala Bandung, mereka tampil percaya diri dan energik untuk menyalurkan bakat dan kemampuan mereka selama proses latihan dan pendidikan selama ini.
Luar biasa...! Barangkali itu kata yang tepat untuk mengapresiasi atas apa yang mereka tampilkan hari itu. Tepuk tangan gemuruh dengan standing uplus dari para penonton yang memadati area CityLink Festival pada sore hari itu, menunjukkan kesuksesan mereka dalam melewati apa yang sudah dipelajari dalam latihan-latihan rutin selama ini.
Bravo...anak-anak SD Bianglala atas penampilan yang memukau hari ini. Keberanian dan antusias mereka mengisyaratkan kesukaan mereka dalam kegiatan yang sudah ditekuni. Kesukaan mereka atas tari ini melabihi kegembiraan kami saat menonton penapilan luar biasa ini. Juara yang sesungguhnya adalah kesenangan mereka atas tampilnya mereka menyuguhkan apa yang sudah didapatkan di sekolah, meski dalam kegiatan ini, mereka pun diganjar sebagai Juara 3 tingkat SD se-Bandung, Selamat...!!!!
Tujuan kami adalah Kota Tobelo, Maluku Utara. Pukul 07.00 pagi, kami tiba di Ternate. Melalui jalan darat, menyusuri Kota Ternate yang mulai ramai, kami diantar ke Pelabuhan Laut untuk menjalani penyeberangan dengan kapal laut kecil untuk diseberangkan ke Pulau Maluku Utara.
Di Pelabuhan Laut, Pulau Ternate
Hendi Liyanto, Kabelan Kunia, Lina, Selly
Dugaanku semula bahwa aku akan mengalami mabuk laut, ternyata tidak terjadi sama sekali. Penyeberangan laut yang mengasikkan dan untuk pertama kalinya aku menaiki kapal perahu kecil. membelah laut luas Menurut nahkoda, pada pagi hari penyeberangan sangat mendukung, karena ombak sangat kecil dan udara lebih bersahabat. Alhasil perjalanan 45 menit ini kami nikmati dengan enjoy sampai akhirnya tiba di Pulau Maluku dengan selamat dan mengasikan.
Dalam Perahu di perjalanan laut ke Tobelo
Menikmati panas alam Timur
Perjalanan sebenarnya baru terjadi sekarang. Menumpangi kendaraan Avanza dengan jarak tempuh lebih dari 250 Km, menyusuri jalanan yang berkelok dan sedikit berlubang, akhirnya aku tumbang juga. Perjalanan ditempuh lebih dari 3 jam. Kepalaku sontak menjadi pusing dan mata mulai berkunang-kunang. Rupanya desakan dari dalam perut sudah tidak bisa dibendung lagi. Setibanya di tempat penginapan, semuanya aku tumpahkan di kamar mandi. Semua yang dimakan saat makan siang di perjalanan tadi, terkuras habis, hiiii......legaaa sekali rasanya.
Sore ini pinginnya aku tidur untuk istirahat sejenak di kamar hotel yang cukup nyaman dan luas. Namun tuan rumah, Pak Pery dan istri mengajak kami ke gedung pertemuan untuk persiapan acara besok pagi. Sedikit lemas dan loyo, akhirnya kami bergegas mandi dan berangkat ke lokasi gedung pertemuan sembari menikmati suasana kota Tobelo yang tenang dan sepi.
Setelah memasang spanduk dan menata segala sesuatunya untuk acara besok, menjelang malam kami kembali ke Hotel. Setelah shalat Maghrib dan dilanjutkan dengan Isya, aku merebahkan diri di peraduan nan empuk hingga Subuh menjelang. Selamat pagi Tobelo.....!!!