Sabtu, Maret 02, 2013

Najla : Belajar, Bermain dan Berwisata

Najla dan teman bersma Bunda dari TK Badrisallam 
Najla dan teman dari TK Badrisallam sedang mejeng 
Najla dan teman dari TK Badrisallam sedang mejeng 
Najla dan teman-teman sedang menangkap ikan

Sabtu, Februari 16, 2013

Melestarikan Seni Tradisi Angklung Sejak Dini

Fawaz (Tengah depan) bersama teman-temannya dari SD Bianglala Bandung
berfose sesaat sebelum tampil di panggung Saung Udjo, Padasuka Bandung



Angklung yang kini telah mendapatkan suatu pengakuan dari badan dunia UNESCO pada tahun 2010, yaitu dari Badan Dunia yang membawahi salah satunya kesenian tradisional. Hal ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Sunda, jawa barat, Indonesia.

Angklung adalah salah satu budaya bangsa Indonesia yang banyak diperebutkan oleh berbagai bangsa. Terutama oleh negeri tetangga kita yang memang getol mencaplok seni tradisi bangsa kita, yaitu Malaysia yang dunia sudah tahu bahwa mereka tidak memiliki akar tradisi yang kuat seperti bangsa kita. Sebagai bangsa yang kaya dengan tradisi, sangat wajar kita mengapresiasi pengakuan internasional atas angklung ini. Hamun yang tidak kalah penting adalah,  bagaimana kita menjaganya agar budaya ini bisa semakin berkembang dan jangan sampai punah. Kita perlu mengenalkannya kepada anak-anak kita bahwa kita mempunyai banyak seni budaya termasuk angklung. 
Fawwaz mejeng bersama adik dan ibu setelah tampil di Bank Indonesia Bandung


Banyak cara untuk mengenalkan angklung kepada dunia luar utamanya kepada para generasi kita. Salah satunya dengan memberikan mata pelajaran tambahan tentang seni budaya Indonesia yang bisa kita mulai sejak dini, misalnya dari TK dan SD. Rifdah Fawwaz yang kini bersekolah di SD Bianglala Bandung, mendapatkan pengetahuan sekaligus keterampilan yang menyeluruh tentang musik tradisi angklung dari sekolahnya. SD Bianglala sangat rutin memberikan keterampilan seni angklung kepada siswa-siswinya mulai dari TK sampai SD. Bahkan sekolah tidak segan-segan mengirimkan siswanya ke berbagai event-event di luar sekolah sampai ke level internasional. Beberapa kali sekolah ini mendapatkan prestasi yang memukau di pentas-pentas Nasional bahkan Internasional dalam perform angklung ini.

Saung Amgklung Mang Udjo merupakan sarana tempat dimana kita dapat menikmati alunan seni musik angklung, sekaligus melihat tempat produksi angklung yang merupakan alat musik yang berasal dari Sunda, Jawa Barat, Indonesia yang terbuat dari bambu. Di Saung Angklung Mang Udjo ini untuk kesekian kalinya anak-anak SD Bianglala tampil untuk menghibur masyarakat, sehingga mereka dapat menikmati alunan musik angklung tanpa terkesan kuno atau pun ketinggalan jaman.


Selamat dan Sukses atas penampilan grup angklung siswa-siswi SD Bianglala di Saung Angklung Mang Udjo. Majulah kesenian tradisional Indonesia.


Jumat, November 30, 2012

Fawwaz Dance di Gedung Sate - Bandung


TARIAN selamat datang yang ditampilkan Fawwaz dan teman-teman dari SD Bianglala Bandung pada acara Dinner Conferences INDONESIA - JAPAN, Innovation Convention di Aula Barat Gedung Sate (Kantor Gubernur Jawa Barat) pada Jumat malam, tanggal 30 November 2012.

Tarian selamat datang yang ditampilkan menyambut kehadiran Bapak Gubernur Jawa Barat, Bapak Ahmad Heryawan, Bapak Ginanjar Kartasasmita, Ketua Penasehat Presiden RI, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Rektor Bidang Kemahasiswaan ITB dan segenap delegasi (ilmuwan dan peneliti) dari Jepang dan Indonesia sebagai peserta konferensi yang akan berlangsung 2 hari ke depan di SABUGA - ITB.

Senyum manis penari-penari cilik ini terus mengembang, menyapu semua penonton yang hadir di Aula Barat Gedung Sate, di malam nan romantis itu. Sekalipun para penarinya masih belia, namun keahliannya menari patut diacungi jempol. Terutama senyumannya yang terus mengembang sepanjang tarian ditampilkan. Penonton di malam itu sangat puas dan bangga disambut dengan tarian menawan dari penari-penari cilik nan cantik di depan panggung (Kabelan Kunia/ Gedung Sate)

Gedung Sate - Bandung

Angklung: Fawwaz dan SD Bianglala Perform di Gedung Sate



Fawwaz dan teman-teman dari SD Bianglala Bandung "Angklung Perform" di acara Dinner Conferences INDONESIA - JAPAN, Innovation Convention di Aula Barat Gedung Sate (Kantor Gubernur Jawa Barat) pada Jumat malam, tanggal 30 November 2012.

Acara sangat meriah dengan disaksikan Bapak Gubernur Jawa Barat, Bapak Ahmad Heryawan, Bapak Ginanjar Kartasasmita, Ketua Penasehat Presiden RI, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Rektor Bidang Kemahasiswaan ITB dan segenap delegasi dari Jepang dan Indonesia sebagai peserta konferensi yang akan berlangsung 2 hari ke depan di SABUGA - ITB.

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional masyarakat Sunda di kota ini dan Jawa Barat pada umumnya, alat musik ini terbuat dari bahan bambu. Penampilan apik dari anak-anak SD Bianglala semakin menegaskan bahwa Angklung merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Tidak ada alasan negara lain, terutama Malaysia nekad tanpa malu mengklaim Angklung sebagai budaya dari bangsanya. Semua tahu bahwa Malaysia adalah negara yang tidak memiliki warisan budaya asli.

Apresiasi Kedutaan Jepang dan tamu-tamu dari Jepang yang terdiri dari para ilmuwan dan peneliti yang hadir dalam acara malam itu makin mempertegas bahwa musik Angklung adalah budaya asli Bangsa Indonesia. Hidup Angklung..... (Kabelan Kunia/ Gedung Sate)

Bianglala Angklung; Japan Song



Fawwaz dan teman-teman dari SD Bianglala Bandung "Angklung Perform" di acara Dinner Conferences INDONESIA - JAPAN, Innovation Convention di Aula Barat Gedung Sate, Kantor Gubernur Jawa Barat pada Jumat malam, 30 November 2012.

Acara sangat meriah dengan disaksikan Bapak Gubernur Jawa Barat, Bapak Ahmad Heryawan, Bapak Ginanjar Kartasasmita, Ketua Penasehat Presiden RI, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Rektor Bidang Kemahasiswaan ITB dan segenap delegasi dari Jepang dan Indonesia sebagai peserta konferensi yang akan berlangsung 2 hari ke muka di SABUGA - ITB.

Sambutan sangat meriah dari setiap penampilan angklung SD Bianglala dari para audiences, terutama saat penampilan angklung menyanyikan lagu-lagu populer dari negeri Jepang. Kesahduan dari setiap ketukan angklung dari jemari mungil anak-anak SD Bianglala menambah kemeriahan suasana dingin di dalam aula saat itu. Gemericik hujan di luar menambah kesahduan suasana romantis malam itu. Tepuk tangan membahana setiap akhir penampilan.

Apresiasi luar biasa dari kedutaan Jepang atas penampilan anak-anak SD Bianglala malam itu ditandai dengan pemberian cindera mata buat penampil angklung. Anak-anak nampak sumringah menerima kado istimewa malam itu yang diserahkan langsung oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia (Kabelan Kunia/ Gedung Sate)

Minggu, September 30, 2012

Semarak Braga Festival 2012 yang Kurang Greget...

Karinding Show yang membuat semarak dan keunikan
Karinding Show di arena Braga Festival yang membuat unik
Fawwaz dan Najla di Arena Braga Festival yang kurang greget



Arena Braga Festival yang disesaki Pedagang Kaki Lima (PKL)

Mendung di Arena Braga Festival

Jajanan Sosis Bakar di arena Braga Festival yang penuh sesak

Minggu, Agustus 26, 2012

Menelusuri Jejak Sang Proklamator RI

Heni, Fawwaz dan Najla bediri di halaman rumah pengasingan
Ir. Soekarno di  Bengkulu
Bengkulu - Menjelang siang setelah puas menikmati indahnya suasana Pantai Panjang, kami sekeluarga bergegas keluar mencari suasana dan objek lain yang akan dikunjungi. Terfikirkan oleh kami untuk mampir ke rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu. Konon, di sinilah Bung Karno diasingkan Belanda selama 4 tahun, sejak tahun 1938 hingga 1942. Kami juga berencana berkunjung ke rumah tinggal Ibu Fatmawati yang tidak jauh dari tempat pengasingan Bung Karno. Dari informasi penduduk setempat, jaraknya tidak lebih dari 2 - 3 KM saja.

Selain Benteng Marlborough yang pernah kami kunjungi 2 tahun yang lalu, Rumah Pengasingan Bung Karno menjadi destinasi menarik saat traveling ke Bengkulu kali ini. Sembari merasakan panasnya kota Bengkulu, berwisata sejarah sekaligus bisa bernostalgia dengan perjuangan Bung Karno saat masa penjajahan Belanda.


 Fawwaz, Najla dan Heni, bediri di rumah kediaman Bung Karno
pada waktu pengasingan 
di Bengkulu
Bangunan tua dengan arsitektur art deco jaman baheula yang dikenal dengan nama Rumah Pengasingan Bung Karno ini berada di tengah kota, tepatnya di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Gading Cempaka, Bengkulu.  Perjalanan kami dari pantai tadi hanya 10 menit ditempuh untuk sampai di objek wisata sejarah yang menarik ini. 

Kenapa Belanda terkutuk dulu mengasingkan sang Proklamator ke kota ini? Dulunya kawasan ini adalah daerah yang dianggap rawan malaria oleh Belanda. Dengan alasan itulah, Bung Karno dibuang ke tempat ini. Namun bukannya terkena penyakit malaria, Bung Karno malah gencar menyusun kekuatan dan dukungan untuk merebut kemerdekaan.

Selama di pengasingan ini, Bung Karno terus berjuang menularkan semangat pada masyarakat sekitar. Bung Karno juga sempat mendirikan Masjid Jami' di Jalan Soeprapto dan kelompok diskusi ilmiah bernama Debating Cerdas Club. Bung Karno juga pernah mendirikan kelompok sandiwara Monte carlo sebagai media untuk menyusun strategi agar kemerdekaan Indonesia tercapai. Bukti sejarah berupa baju-baju/ kostum yang biasa dipakai kelompok sandiwara untuk pertunjukan tonil tersimpan rapi di lemari dalam rumah sejarah ini. 


Najla,  Fawwaz dan Heni bediri di salah satu kamar dalam rumah
pengasingan 
Ir. Soekarno di  Bengkulu

Awalnya, rumah ini adalah milik seorang pedagang Tionghoa, Lion Bwe Seng. Halamannya cukup luas dan rapi. Pintu dan kusennya pun masih asli dengan desain khas Tionghoa. Di dalam bangunan, terdapat benda-benda bersejarah peninggalan Bung Karno yang masih tertata rapi.


Satu demi satu koleksi terlihat jelas di dalam rumah ini. Kami dapat melihat foto Bung Karno yang sedang berpidato terpajang rapi di salah satu sudut bangunan. Di kamar Bung Karno, terdapat ranjang tempat tidur beliau. Ada juga koleksi surat-surat cintanya kepada Fatmawati. Alkisah, di sinilah Bung Karno mulai merasakan benih-benih cintanya kepada Fatmawati, gadis asli Bengkulu putri seorang guru Muhammadiyah, begitu juga sebaliknya. Melalui rumah pengasingan inilah mereka kemudian menikah. 

Kami juga menyempatkan berfoto di depan sepeda ontel milik Bung Karno yang disimpan rapi dalam boks kaca. Untuk masuk ke rumah Bung Karno ini, pengunjung termasuk kami dikenakan biaya Rp 2.500,- Sayangnya, dengan retribusi yang ada, pengelola tidak berhasil memelihara dengan baik bukti sejarah ini. Sebagai sebuah pembelajaran, terutama buat kedua putri kami, rasanya kunjungan ke rumah pengasingan Bung Karno ini sangat menarik dan begitu berkesan. 

Heni, Fawwaz dan Najla bediri di depan Sepeda ontel milik 
Ir. Soekarno di rumah pengasingannya di Bengkulu

Rumah Kediaman Ibu Fatmawati
Sebelum ke rumah pengasingan Bung Karno, kami terlebih dahulu menyempatkan singgah ke rumah kediaman ibu Fatmawati sebelum menikah dengan beliau. Lokasi rumah ibu Fatmawati cukup dekat dengan rumah pengasingan Bung Karno yang berjarak kurang lebih 600 meter, atau  tepatnya berada di Jalan Fatmawati. 

Rumah berwarna coklat dan berbentuk rumah panggung yang merupakan ciri rumah tradisional masyarakat Sumatera. Seperti rumah pengasingan Bung Karno, di rumah ini kami menemui banyak perabotan dan barang-barang milik Ibu Fatmawati yang mengandung nilai sejarah, termasuk mesin jahit yang dulu digunakan untuk menjahit bendera merah putih yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Rumah bersuasana hangat dengan dominasi warna cokelat tua ini banyak menyimpan kenang-kenangan Ibu Fatmawati sejak masa kecil hingga gadisnya. Aku dan istri menyempatkan berfoto di samping ranjang di kamar ibu Fatmawati. Di ruang depan, terpampang foto bapak bangsa, Ir. Soekarno. Najla dengan penuh semangat sembari mengepalkan tangan kanannya berteiak 'Merdeka", berfose di depan foto Bung Karno yang gagah perkasa. Semoga putri kecil kami kelak menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya seperti Ir. Soekarno, amin... (*Kabelan Kunia, Bengkulu 26/08/12)
Soerkano Kecilku, Najla Haifa Zaizativa Kunia
Aku dan istri berdiri di samping ranjang  Ibu Fatmawati 

Sabtu, Agustus 25, 2012

Menikmati Indahnya Pantai Panjang Bengkulu

Merasakan pesona Pantai Panjang Bengkulu
Pantai Panjang - Bengkulu, Menjelang mghib, kami tiba di Kota Bengkulu. Takut melewatkan matahari terbenam (sunset), aku bergegas membawa mobil langsung menuju Pantai Panjang  yang hanya berjarak 1.5 km dari pusat kota.

Pantai panjang adalah objek wisata yang sangat eksotis karena hamparan pasir putihnya yang masih alami dapat membuka inspirasi akan kebesaran yang maha kuasa. Pantai ini tepatnya berada disebelah barat Kota Bengkulu, sehingga suasana menjelang terbenamnya matahari menjadi momen yang banyak ditunggu dan dinikmati. 
Najla Haifa Zaizativa Kunia bermain pasir

Setelah sejenak menikmati senja merah di pinggi pantai, kami bergegas mencari tempat menginap. Di sekitar kawasan pantai banyak ditemui penginapan dengan tarif yang relatif dapat terjangkau. Akhirnya kami menginap di Hotel Pantai Panjang. Cukup murah, tapi nyaman. Di sepanjang pantai juga kita dapat menikmati pangan khas Bengkulu, tapi sudah penuh. Akhirnya malam ini kami hanya bisa menikmati mie aceh di tengah kota Bengkulu.


Heni, Najla dan Fawwaz berjemur di pagi yang indah
Setelah pulas beristirahat di hotel yang cukup nyaman dan bersih, pagi hari ini kami segera menuju pinggir pantai yang berada tidak jauh dari hotel. Hanya berjarak sekitar 100 meter, kami sudah bisa menikmati indahnya Pantai Panjang dengan pasir putihnya yang lembut. Deburan ombak sesekali menyapu telapak kaki.  Beberapa kali deburan ombak berhasil merobohkan istana pasir Fawwaz dan Najla. Seperti tidak bosan, keduanya kembali membangun istananya dengan antusias.
Najla dan Fawwaz menikmati Pantai Panjang nan indah

Senin, Juni 25, 2012

Secercah Senyum di Pulau Para Dewa

Secercah senyum di Pura Pangandaran, Bedugul, Bali

Secercah senyum di Patung Krisna (Garuda Wishnu Kencana), Bali

Secercah senyum di Plaza Garuda Wishnu Kencana (GWK), Bali

Mejeng di kamar Lovina Hotel, Pantai Lovina, Bali

Sabtu, Juni 23, 2012

Menyambut Mentari Pagi di Pantai Nusa Dua, Bali

Mentari pagi di Pantai Nusa Dua, Bali

Menikmati mentari pagi di Pantai Nusa Dua, Bali

Menyambut mentari pagi di Pantai Nusa Dua, Bali


Jumat, Juni 22, 2012

Gemericik Ombak di Tanah Lot, Bali

Heni Yuningsih, Fawwaz dan Najla dengan latar belakang Pura Tanah Lot, Bali
Menjelang sore, kami bergegas menuju Pura Tanah Lot. Harapan kami, ketika tiba di sana, kami bisa menikmati sunset yang merah membara membakar langit di belakang Pura Tanah Lot nan eksotis. Seperti banyak ditampilkan di foto-foto dan iklan-iklan yang menampilkan semburat merah mentari di latar Pura, bayangan yang indah itu membuat aku makin memacu laju kendaraan sewaan melintasi kemacetan Bali. Sepertinya banyak wisatawan yang punya angan-angan dan bayangan seperti kami terhadap indahnya senja di Tanah Lot. Akibatnya jalan-jalan, terutama akses menuju objek wisata tersebut kusut karena macet.

Heni, Fawwaz dan Najla dengan latar belakang Pura Tanah Lot, Bali

Kami sangat mahfum bahwa Tanah Lot merupakan salah satu tujuan wisata favorit di pulau Bali ini. Makanya aku sedikit nekad menginjak pedal gas Avanza dalam-dalam untuk segera sampai di sana. Objek wisata ini terkenal akan pura Tanah Lot yang terletak terpisah dari daratan, namun masih bisa dijangkau kalau air laut surut tanpa harus menggunakan perahu. Pura ini merupakan salah satu pura utama di Bali yang dikenal dengan Sad Kahyangan. Pura Tanah Lot terletak di desa Beraban, Tabanan. Perjalanan kami menuju lokasi tidak kurang dari 1,5 jam dari kota.


Fawwaz dan Najla di Pura Tanah Lot, Bali
Di tengah keramaian pengunjung dan deru-menderu suara ombak mengelus bebatuan di pinggiran pura, kami sekeluarga menyempatkan mengabadikan senja di Tanah Lot ini. Namun sayangnya kami tidak bisa mengabadikan semburat merah di latar pura, karena malam hampir menjelang. Kelamaan di jalan yang macet, menyebabkan kami tidak kebagian menikmati keindahan lain di Tanah Lot.

Sembari menikmati gemericik ombak-ombak kecil di sela-sela jemari kaki, kami beharap semoga waktu-waktu mendatang kami bisa berkunjung kembali ke sini dengan tanpa kehilangan momen indah menikmati Sang Mentari Senja menjilat di laut lepas di  Tanah Lot nan indah ini, semoga. (Kabelan Kunia/ Family on Vacation) 

Fawwaz dan Najla narsis di Pura Tanah Lot, Bali

Heni Yuningsih, Fawwaz dan Najla dengan latar belakang Pantai Sanur, Bali

Kamis, Juni 21, 2012

Minggu, Mei 13, 2012

Penari Kecilku.........

Sumber : YouTube

Rifdah Fawwaz Zhafirah Kunia dan teman-teman di SD Bianglala perform pada Lomba Modern Dance di Bandung  pada Bulan Mei 2011 tahun yang lalu. Alhamdulillah grup ini didaulat sebagai JUARA III tingkat SD/ Anak. Selamat !!!!

Kamis, Mei 10, 2012

Belajar Swimming.....


Najla Haifa Zaizativa Kunia (4,3 tahun) sedang belajar berenang di Kolam renang Gracia Lembang-Subang. Keberanian adalah kunci sukses untuk bisa berenang dengan baik....

Minggu, April 15, 2012

Hari-hari Putri Kecilku

Rifdah Fawwaz ZK. sedang mencuci sepatu dan kaos  kaki
Hari Minggu saya libur sekolah,saya mengisi waktu libur dengan membantu ibu mencuci sepatu dan kaos kaki.
Rifdah Fawwaz ZK. sedang mencuci piring membantu Ibu
Dan selain mencuci sepatu dan kaos kaki saya juga membantu ibu saya mencuci piring, gelas, mangkok dan perabot dapur kotor yang kecil lainnya.

Rifdah Fawwaz ZK. sedang menyapu rumah
Dan saya juga membantu ibu saya menyapu lantai rumah yang kotor.

Rifdah Fawwaz ZK. sedang menyapu halaman rumah
Dan yang terakhir saya membantu ibu menyapu halaman rumah yang penuh dedaunan yang berjatuhan.


Selasa, Maret 20, 2012

Angklung; Warisan Budaya Menapak Dunia

YouTube :
Perform Angklung SD Bianglala & Fawwaz cs (20-03-11)
di Festival Citylink Bandung. Juara Harapan III
Tingkat Pelajar SD - SMA Kota Bandung

Angklung adalah sebuah alat musik yang terbuat dari potongan bambu. Alat musik ini terdiri dari 2-4 tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan talirotan. Tabung bambu dikuir detail dan dipotong sedemikian rupa oleh pengrajin angklung profesional untuk menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambu digoyang.

Setiap angklung menghasilkan nada  atau akord yang berbeda sehingga beberapa pemain harus bekerja sama untuk menghasilkan melodi yang indah. Instrumen ini telah dikenal sejak zaman kuno di beberapa wilayah Indonesia, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Kata angklung berasal dari bahasa Sunda yaitu ‘angkleung-angkleungan’ yaitu gerakan pemain angklung, serta dari suara ‘klung’ yang dihasilkan instrument bambu ini. Angklung sebenarnya merupakan pengembangan dari alat musik calung, yaitu tabung bambu yang dipukul, sedangkan angklung merupakan tabung bambu yang digoyang sehingga menghasilkan hanya satu nada untuk setiap instrumennya.

Dalam tradisi Sunda masa lalu, instrumen angklung memiliki fungsi dalam ritual keagamaan yaitu untuk mengundang Dewi Sri (Dewi padi lambang kemakmuran) agar turun ke bumi dan memberikan kesuburan tanaman padi. Hingga saat ini di beberapa desa masih dijumpai upacara yang mempergunakan angklung buhun untuk kegiatan tradisional seperti: pesta panen, ngaseuk pare, nginebkeun pare, ngampihkeun pare, seren taun, nadran, helaran, turun bumi, dan sedekah bumi. 

Selayaknya masyarakat Sunda secara khusus bisa memainkan alat musik sederhana ini. Karenanya, di SD Bianglala bandung alat musik ini mulai diperkenalkan secera serius kepada semua siswa. Bahkan dalam beberapa kesempatan, SD Bianglala Angklung senantiasa diundang untuk menampilkan grup musik angklungnya ke hadapan khalayak.

Dalam berbagai lomba Angklung di Jawa Barat khususnya, kerapkali tim angklung SD Bianglala Bandung menjuarai lomba alat musik ini. Tampil di depan umum dalam sebuah festival atau perlombaan, melatih kepercayaan diri siswa sekaligus makin memperkenalkan alat musik warisan budaya bangsa. Pada akhirnya kita semua, bangsa Indonesia menjadi bangga akan warisan budaya bangsa dan berani berkata lantang, bahwa budaya adiluhung Indonesia sudah menyebar ke seantero dengan penuh kebanggaan...! Sukses....Angklung sebagai warisan dunia (Kabelan Kunia)

Sabtu, Januari 21, 2012

Fawwaz and Bianglala Modern Dances Perform


Rifdah Fawwaz Zhafirah Kunia dan teman-teman dari SD Bianglala Bandung (Bianglala Modern Dance's) perform pada  kegiatan Festival CityLink Bandung pada tanggal 21 Januari 2012.

Kegiatan ekstrakurikuler 'Menari' di SD Bianglala yang sudah diikuti dalam kurun waktu 1 tahun belakang, dibuktikan dalam penampilan yang fantastis pada hari ini. Bersama teman-teman dari SD Bianglala Bandung, mereka tampil percaya diri dan energik untuk menyalurkan bakat dan kemampuan mereka selama proses latihan dan pendidikan selama ini.

Luar biasa...! Barangkali itu kata yang tepat untuk mengapresiasi atas apa yang mereka tampilkan hari itu. Tepuk tangan gemuruh dengan standing uplus dari para penonton yang memadati area CityLink Festival pada sore hari itu, menunjukkan kesuksesan mereka dalam melewati apa yang sudah dipelajari dalam latihan-latihan rutin selama ini.

Bravo...anak-anak SD Bianglala atas penampilan yang memukau hari ini. Keberanian dan antusias mereka mengisyaratkan kesukaan mereka dalam kegiatan yang sudah ditekuni. Kesukaan mereka atas tari ini melabihi kegembiraan kami saat menonton penapilan luar biasa ini. Juara yang sesungguhnya adalah kesenangan mereka atas tampilnya mereka menyuguhkan apa yang sudah didapatkan di sekolah, meski dalam kegiatan ini, mereka pun diganjar sebagai Juara 3 tingkat SD se-Bandung, Selamat...!!!!

Kamis, Desember 22, 2011

Puisi Hari Ibu : 'Ibu Pahlawanku"

Mamah Popon Suhaeni (Kiri) dan Umak Maniah (Kanan). Mejeng di Safari
Banyak pahlawan perempuan di dunia ini
Bagiku pahlawan sejati itu adalah Ibu
Pertempuran melawan rasa sakit dan nyeri ketika melahirkanku
adalah pertempuran yang melelahkan.

Beruntung sebagai suami aku menyaksikan pergulatan istri melahirkan anak-anak kami
Sosok Ibu yang berjuang hidup dan mati terlintas dan mengharukan
Kematian yang dihadapkan adalah kepasrahan
Ketika Sang buah hati terpekik, kemenangan tiada terlukiskan
Perjuangan 9 bulan dan sekian jam di ujung garis batas 'kematian' seolah tuntas.

Rupanya perjuangan Ibu belumlah usai
Dari bayi yang selalu disusui, digendong, dimandi dan disuapi hingga menjelang dewasa
Kasih sayang itu tidak pernah padam
Pun ketika harus terpisahkan dengan keluarga baruku
Doa Ibu tidak pula selesai
Selaksa harap dan doa-doa dipanjatkannya untukku, anaknya yang enggan melupakan.

Banyak pahlawan wanita di dunia ini
Bagiku pahlawan sejati itu adalah IBU.

(Selamat Hari Ibu 2011)

Selasa, November 22, 2011

Secangkir Coklat Hangat Untukku


 

Secangkir coklat hangat tersaji menjelang pergantian tahun, 39 tahun berlalu. 
Kehangatan coklat menyeruak menghantar perjalanan panjang.
Hidup penuh rintangan dalam perjuangan yang tak berkesudahan.
 Keabadian merintangi pasti.
Kuukir jejak dengan langkah penuh darah dan air mata.
Tak ada yang tercecer, tetes demi tetes.


Secangkir coklat panas berukir kembang nan indah.
Pesona dunia mengikrar nafsu.
Tak terelak gapaian birahi.

Mencoba lari mengangkangi laknat.
Menembus batas maksiat yang terjaring.
Hilangkan gelap menatap sinar
Berpijar menyambut asa.



 Masa yang tuntas.
Dilewati penuh letih.
Meraih mimpi dalam dekapan sang dewi.
Hidup lebih berarti didampingi dua bidadari kecil nan lucu.


Merajut asa dengan bingkai kesetiaan.
Warna-warni kehidupan menghiasi jalan yang tak pernah lurus.
Keberanian melangkah menepis angkara.
Tujuan mulia terpatri dalam harapan.
(Bandung, 22 Nopember 2011)

Kamis, Oktober 27, 2011

I Love Tobelo

Ibu Lina, Hendi Liyanto dan Kabelan Kunia
Tiba di Sultan Babullah, Ternate

Tujuan kami adalah Kota Tobelo, Maluku Utara. Pukul 07.00 pagi, kami tiba di Ternate. Melalui jalan darat, menyusuri Kota Ternate yang mulai ramai, kami diantar ke Pelabuhan Laut untuk menjalani penyeberangan dengan kapal laut kecil untuk diseberangkan ke Pulau Maluku Utara.

Di Pelabuhan Laut, Pulau Ternate
Hendi Liyanto, Kabelan Kunia, Lina, Selly
Dugaanku semula bahwa aku akan mengalami mabuk laut, ternyata tidak terjadi sama sekali. Penyeberangan laut yang mengasikkan dan untuk pertama kalinya aku menaiki kapal perahu kecil. membelah laut luas  Menurut nahkoda, pada pagi hari penyeberangan sangat mendukung, karena ombak sangat kecil dan udara lebih bersahabat. Alhasil perjalanan 45 menit ini kami nikmati dengan enjoy sampai akhirnya tiba di Pulau Maluku dengan selamat dan mengasikan.

Dalam Perahu di perjalanan laut ke Tobelo
Menikmati panas alam Timur
Perjalanan sebenarnya baru terjadi sekarang. Menumpangi kendaraan Avanza dengan jarak tempuh lebih dari 250 Km,  menyusuri jalanan yang berkelok dan sedikit berlubang, akhirnya aku tumbang juga. Perjalanan ditempuh lebih dari 3 jam. Kepalaku sontak menjadi pusing dan mata mulai berkunang-kunang. Rupanya desakan dari dalam perut sudah tidak bisa dibendung lagi. Setibanya di tempat penginapan, semuanya aku tumpahkan di kamar mandi. Semua yang dimakan saat makan siang di perjalanan tadi, terkuras habis, hiiii......legaaa sekali rasanya.

Sore ini pinginnya aku tidur untuk istirahat sejenak di kamar hotel yang cukup nyaman dan luas. Namun tuan rumah, Pak Pery dan istri mengajak kami ke gedung pertemuan untuk persiapan acara besok pagi. Sedikit lemas dan loyo, akhirnya kami bergegas mandi dan berangkat ke lokasi gedung pertemuan sembari menikmati suasana kota Tobelo yang tenang dan sepi.

Setelah memasang spanduk dan menata segala sesuatunya untuk acara besok, menjelang malam kami kembali ke Hotel. Setelah shalat Maghrib dan dilanjutkan dengan Isya, aku merebahkan diri di peraduan nan empuk hingga Subuh menjelang. Selamat pagi Tobelo.....!!!